Minat Membaca Masyarakat Indonesia

23 April 2019 | Editor : Dimas

Setiap tanggal 23 April diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Tapi apakah Kallafriends tau kenapa Hari Buku Sedunia ditetapkan pada 23 April? Pada tahun 1923, seorang penulis dari Valencia yang bernama Vicente Clavel Andres memberi ide untuk menghargai penulis Miguel de Cervantes yang meninggal pada hari itu. Alhasil, para pedagang buku kemudian membuat perayaan di Catalunya, Spanyol, dengan memberi buku serta kegiatan-kegiatan lain.
 
Barulah pada tahun 1995, UNESCO menetapkan 23 April sebagai Hari Buku dan Hari Hak Cipta Sedunia. Karena hari itu merupakan hari kematian beberapa penulis seperti William Shakespeare, Miguel de Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega dan Josep Pla, serta kelahiran beberapa penulis, diantaranya Maurice Druon, Manuel Mejia Velljo dan Halldor Laxness.
 
Di Indonesia sendiri Hari Buku diperingati untuk pertama kalinya pada tahun 2006 yang diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca dan didukung oleh pemerintah, pengusaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum.
 
Sayangnya minat baca masyarakat di Indonesia masih kurang. Berdasarkan hasil survei UNESCO pada tahun 2011 menunjukan indeks tingkat membaca masyarakat di Indonesia hanya sebesar 0,001% yang berarti hanya 1 dari 1.000 penduduk yang "mau" membaca buku.
 
Melansir vemale.com, pada tahun 2015, sebuah rilis dari Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) melalui Program for International Student Assessment (PISA) menyatakan dari 70 negara yang masuk ke dalam kriteria survei, Indonesia berada di posisi 62. Respondennya antara lain anak-anak sekolah berusia 15 tahun sebanyak kurang lebih 540 ribu partisipan dengan sampling error sekitar 2 -3 orang.
 
Standar penilaian tersebut, skor rata-rata untuk sains adalah 493, untuk membaca 493 juga, dan untuk matematika 490. Hasilnya Indonesia mendapat skor untuk sains 403, untuk membaca 397, dan untuk matematika 386. Sementara itu performa membaca orang Indonesia berada di urutan 44 dengan skor 397.
 
Selain itu, literasi bertajuk "World's Most Literate Nations" yang dikeluarkan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada Maret 2016, menggunakan 5 indikator untuk mengukur tingkat kepembacaan. Kelima indikator tersebut antara lain, perpustakaan, surat  kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer. Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara.
 
Hal ini tentu saja menunjukkan betapa rendahnya minat baca di Indonesia. Namun, ini bukan salah anak-anak saja. Kurang tersedianya buku-buku sebagai bahan bacaan yang menarik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi minat baca sejak dini. Oleh karena itu dibutuhkan peran serta pemerintah dan masyarakat dari berbagai kalangan dan profesi untuk ambil andil dalam mengupayakan, menyediakan, dan meningkatkan minat baca sejak dini.
 
Karena banyak hal yang dapat diketahui dengan membaca. Selamat Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Mari lestarikan budaya membaca. Sudahkah Anda membaca buku hari ini?